Kalau Anda tinggal di Den Haag, Amsterdam, Berlin atau London, mungkin Anda pernah heran melihat jadwal sholat di bulan Juni. Isya tercantum lewat tengah malam, Subuh sebelum pukul 3 pagi, dan dua aplikasi atau dua masjid bisa berbeda lebih dari satu jam. Ini bukan kesalahan hitung. Penyebabnya adalah fenomena astronomi yang nyata, dan para ulama serta penyusun jadwal di Eropa menjawabnya dengan beberapa cara berbeda.
Mengapa malam musim panas jadi masalah
Sebagian besar metode menentukan waktu Subuh dan Isya berdasarkan seberapa jauh matahari berada di bawah ufuk. Subuh dimulai ketika matahari sekitar 18° di bawah ufuk sebelum terbit, dan Isya ketika matahari mencapai sekitar 17–18° di bawah ufuk setelah terbenam. Sudut pastinya tergantung metode; Liga Muslim Dunia (MWL) misalnya memakai 18° untuk Subuh dan 17° untuk Isya. Di Indonesia, Kemenag memakai sudut yang lebih besar, yaitu 20° untuk Subuh dan 18° untuk Isya.
Di dekat khatulistiwa, matahari turun jauh melewati 18° setiap malam sepanjang tahun. Di Eropa utara tidak demikian. Sekitar titik balik matahari bulan Juni, deklinasi matahari sekitar +23,44°, sehingga pada tengah malam matahari hanya turun 90° − lintang − 23,44° di bawah ufuk. Agar bisa mencapai 18°, lintang tempat harus kurang dari kira-kira:
90 − 23,44 − 18 ≈ 48,6° LU
Di utara garis itu, ada malam-malam musim panas ketika langit tidak pernah cukup gelap untuk definisi 18°. Cahaya senja bersambung dari matahari terbenam sampai terbit. Secara astronomi, tidak ada momen Subuh dan Isya yang bisa dihitung.
Ini berlaku untuk hampir seluruh Jerman, Belanda, Belgia, Inggris, Denmark dan Skandinavia. München (48,1° LU) nyaris lolos; Frankfurt tidak. Perkiraan periode tanpa malam 18°:
- Frankfurt (50,1° LU): awal Juni sampai pertengahan Juli
- London (51,5° LU): akhir Mei sampai akhir Juli
- Berlin dan Amsterdam (sekitar 52,5° LU): sekitar 20 Mei sampai akhir Juli
- Hamburg (53,6° LU): pertengahan Mei sampai akhir Juli
- Kopenhagen (55,7° LU): awal Mei sampai awal Agustus
- Stockholm dan Oslo (sekitar 59–60° LU): akhir April sampai sekitar 20 Agustus
Di Oslo, saat titik balik matahari, matahari hanya turun sekitar 6,7° di bawah ufuk, jadi "malamnya" sebenarnya senja sipil yang panjang. Lebih ke utara lagi, di dalam Lingkar Arktik, matahari sama sekali tidak terbenam selama sebagian musim panas, sehingga waktu Maghrib pun harus diperkirakan.
Solusi yang umum dipakai
Karena definisi astronomisnya tidak bisa dipakai, jadwal sholat menggunakan suatu kaidah untuk memperkirakan Subuh dan Isya pada malam-malam tersebut. "Malam" di sini biasanya berarti waktu antara matahari terbenam dan terbit.
Tengah malam
Isya tidak boleh lebih lambat, dan Subuh tidak boleh lebih awal, dari titik tengah malam. Kaidah ini sederhana, tetapi pada malam terpendek kedua waktu itu jatuh pada saat yang sama atau sangat berdekatan, sehingga banyak orang merasa sulit menerapkannya.
Sepertujuh malam
Malam dibagi menjadi tujuh bagian. Isya paling lambat di akhir sepertujuh pertama, dan Subuh paling awal di awal sepertujuh terakhir. Hasilnya Isya lebih awal dan Subuh lebih lambat dibanding kaidah tengah malam.
Berbasis sudut
Porsi malam yang dipakai bergantung pada sudut metode: sudut dibagi 60. Dengan sudut Subuh 18°, Subuh paling awal 18/60 = 30% malam sebelum matahari terbit; dengan sudut Isya 17°, Isya paling lambat sekitar 28% malam setelah matahari terbenam. Jika momen senja yang sebenarnya ada dan masih dalam batas itu, waktu sebenarnya yang dipakai.
Perbandingan ketiga kaidah untuk Berlin pada 21 Juni (matahari terbenam sekitar 21.33, terbit sekitar 04.43, malam kira-kira 7 jam 10 menit), sebelum tambahan menit ihtiyat dari masjid:
| Kaidah | Isya (perkiraan) | Subuh (perkiraan) |
|---|---|---|
| Tengah malam | 01.08 | 01.08 |
| Sepertujuh malam | 22.34 | 03.42 |
| Berbasis sudut (17° / 18°) | 23.35 | 02.34 |
Lintang terdekat dan hari terdekat
Ada juga dua pendekatan fikih yang lebih klasik. Lintang terdekat (aqrab al-bilad) memakai waktu sholat dari tempat lebih ke selatan yang tanda fajar dan syafaknya masih tampak, sering kali sekitar 45–48° LU. Hari terdekat (aqrab al-ayyam) memakai waktu dari hari terakhir di musim semi ketika Subuh dan Isya masih jelas terbedakan, lalu terus dipakai sampai tanda-tandanya kembali di akhir musim panas.
Ada pula jadwal komunitas yang memakai sudut lebih kecil di musim panas atau selang waktu tetap setelah Maghrib. Tidak ada satu pun yang "salah"; masing-masing punya ulama yang mendukungnya.
Siapa yang menentukan dalam praktik
Di Eropa tidak ada satu otoritas tunggal untuk jadwal sholat. Yang Anda ikuti biasanya bergantung pada komunitas Anda:
- Masjid lokal di Belanda, Jerman dan Skandinavia sering menerbitkan kalender tahunan sendiri, sesuai pendapat yang diambil imam dan pengurusnya. Komunitas Indonesia di Belanda umumnya mengikuti jadwal masjid atau organisasi tempat mereka bernaung.
- Dewan Fatwa dan Riset Eropa (European Council for Fatwa and Research), lembaga ulama yang fokus pada persoalan Muslim di Eropa, telah membahas waktu sholat dan puasa di lintang tinggi dalam keputusan-keputusannya, dan pendapatnya banyak dirujuk.
- Di Inggris ada banyak jadwal lokal. Di London, sejumlah masjid besar memakai jadwal terpadu, sementara masjid lain membuat jadwal sendiri.
- Komunitas Turki, terutama di Jerman, biasanya mengikuti jadwal Diyanet (Direktorat Urusan Agama Turki) yang dipakai di masjid-masjid DITIB.
Pada sebagian malam musim panas, jarak antara Maghrib dan Isya menjadi sangat pendek, atau Isya jatuh sangat larut. Sebagian komunitas membolehkan menjamak Maghrib dan Isya dalam keadaan ini, sebagian lain tidak. Ini persoalan fikih, bukan astronomi, jadi tanyakan kepada ustadz atau imam Anda, bukan kepada aplikasi.
Musim dingin: masalah sebaliknya
Pada bulan Desember keadaannya terbalik. Siang sangat pendek: di Berlin dan London matahari bersinar kurang dari delapan jam, di Oslo dan Stockholm sekitar enam jam. Di Berlin matahari terbenam sebelum pukul 16.00, sehingga Dzuhur, Ashar dan Maghrib berada dalam rentang sekitar empat jam. Sholat di kantor atau kampus perlu sedikit perencanaan, tetapi waktunya mudah dihitung karena malamnya gelap.
Puasa juga terpengaruh. Ramadan maju sekitar 11 hari setiap tahun dan sekarang sedang bergerak ke musim dingin: pada 2027 dimulai awal Februari, dan pada 2028 akhir Januari. Beberapa tahun ke depan, puasa di Eropa utara akan relatif pendek. Ketika kelak Ramadan kembali jatuh di musim panas, puasa 18 jam atau lebih akan kembali biasa, dan waktu imsak serta Subuh akan langsung bergantung pada kaidah lintang tinggi yang dipakai komunitas Anda. Itu alasan kuat untuk menetapkan satu pendekatan sejak sekarang.
Cara WAQT menanganinya
Saat Anda memilih lokasi di Inggris, Jerman, Belanda, Belgia, Austria, Swiss, Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, Spanyol atau Italia, WAQT secara bawaan memakai metode Liga Muslim Dunia (Subuh 18°, Isya 17°) dengan kaidah lintang tinggi berbasis sudut. Anda bisa beralih ke salah satu dari 25 metode perhitungan, termasuk Kemenag (Indonesia), Diyanet (Turki) dan jadwal terpadu London, atau memilih Pengaturan Kustom untuk menentukan sudut sendiri serta memilih antara kaidah 1/2 malam, 1/7 malam dan berbasis sudut.
Jika masih ada selisih beberapa menit dengan kalender masjid Anda, setiap waktu sholat bisa digeser per menit agar aplikasi sama dengan jadwal yang Anda ikuti.
Langkah praktis
- Di musim panas, di utara sekitar 48,6° LU ada malam tanpa kegelapan 18° yang sebenarnya; waktu Subuh dan Isya pada malam itu adalah perkiraan berdasarkan suatu kaidah.
- Cari tahu jadwal mana yang dipakai masjid atau organisasi komunitas Anda, dan kaidah lintang tinggi apa yang mendasarinya.
- Sesuaikan aplikasi dengan jadwal itu, alih-alih membandingkan beberapa aplikasi.
- Konsistenlah sepanjang tahun, terutama untuk waktu Subuh saat puasa di musim panas.
- Untuk hal yang diperselisihkan ulama, seperti menjamak sholat atau memilih kaidah, ikuti otoritas setempat dan tanyakan kepada imam Anda.